LHOKSEUMAWE – Blang Pulo, Paloh Meuria, dan Paloh Dayah, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, pernah menjadi markas tentara Kaisar Jepang pada Perang Dunia II.

Benda tinggalan mereka yang tersisa adalah benteng beton di dua tempat di Gampong Paloh Meuria, sumur bor di Paloh Dayah, besi penanda jarak kilometer, dan Goa (kurokrok) di Paloh Dayah dan Blang Panyang.

Pada 1943, Tentara Jepang datang dari arah Banda Aceh, dan bermarkas di Blang Pulo, Muara Satu, untuk mengontrol wilayah Lhokseumawe dan sekitarnya. Mereka memerintahkan penduduk sekitar untuk kerja menggali kurokrok secara bergiliran dan digaji secukupnya. Tidak ada kerja paksa. Musuh militer mereka saat itu adalah Belanda.

Namun, tentara Jepang itu memaksa orang Cina -yang saat itu ada di kota Lhokseumawe– untuk bekerja tanpa gaji, mereka dipaksa kerja disertai pecutan cambuk, bahkan parang.

Tentara Jepang juga melatih masyarakat Aceh untuk menguasai bahasa Jepang dan ilmu kemiliteran yang dikenal dengan heiho.

Ketika Amerika Serikat membom Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, semua tentara Jepang diperintahkan menyerah oleh Kaisar, termasuk yang bermarkas di Blang Pulo. Namun, semua mereka tidak pulang dan tidak menyerah, mereka bunuh diri (harakiri).

Ada tiga orang yang tidak harakiri dan masuk Islam. Keturunan mereka masih ada di Paloh Dayah, Blang Pulo, Paloh Meuria, dan sekitarnya. Mereka dijemput oleh negara Jepang untuk kerja di mana suka di negeri Jepang, sebagai penghormatan untuk anak cucu pahlawan perang.