Komplek makam yang berada di pinggir Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, tepatnya di Dusun Arongan, Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe itu, merupakan salah satu dari sekian banyak bukti sejarah di Kota Lhokseumawe.

Pantauan AJNN di lokasi, kondisi makam dengan prasasti batu nisan dalam ukiran kaligrafi kuno itu tampak dipenuhi semak belukar, terkesan seperti tanpa ada perawatan dan perhatian pemerintah setempat.

Makam kuburan berusia puluhan abad itu telah dipugar pada tahun 1987 dengan sumber dana APBN.

Putroe Neng adalah perempuan perkasa Aceh bernama asli Nian Nio Lian Lhian Khie, sebelum memeluk Islam dan menikah dengan Sultan Meurah Johan, seorang pangeran di Aceh.

Pada abad itu, Putroe atau disebut Putri datang ke Aceh bersama ribuan prajurit serdadu perempuan China lainya dan mendirikan sebuah kerajaan bernama Seudu.

Putroe (Putri) masa itu merupakan komandan perang perempuan dari Tiongkok berpangkat Jenderal dari China Buddha.

Bicara sejarah perjalan kehidupan Putroe Neng di Aceh, tentu itu sangat melekat dengan berbagai cerita dan mitos tirai biduk rumah tangga yang memiliki 99 suami dan berakhir tragis pada malam pertama dengan wanita yang kala itu disebutkan memiliki paras sangat cantik.